Selasa, 20 September 2011

APA YANG MEMBUAT ALLAH TERSENYUM?




Teks : Kejadian 6-10.
          Senyuman Allah adalah tujuan hidup kita manusia.  Karena menyenangkan Allah adalah tujuan pertama hidup kita, maka tugas terpenting Anda ialah menemukan bagaimana melakukannya.  Alkitab berkata, berusahalah mengenal apa yang menyenangkan hati Kristus, lalu lakukanlah itu.”[1]  Untunglah, Alkitab memberi kita satu teladan yang jelas tentang sebuah kehidupan yang memberikan kesenangan bagi Allah.  Namanya adalah Nuh.
          Pada zaman Nuh, seluruh dunia telah rusak secara moral.  Setiap orang hidup bagi kesenangan mereka sendiri, bukan kesenangan Allah.  Allah tidak menemukan seorang pun di bumi yang tertarik untuk menyenangkan Dia, sehingga Allah berdukacita dan menyesal telah menciptakan manusia.  Allah begitu jijik terhadap umat manusia sehingga Dia berencana untuk memusnahkan manusia.  Akan tetapi, hanya ada satu manusia yang membuat Allah tersenyum.  Alkitab berkata, Tetapi Nuh sangat menyenangkan hati Tuhan.”[2] 
          Allah berkata, “orang ini mendatangkan kesenangan bagi-Ku. Dia membuat-Ku tersenyum.  Aku akan memulai lagi dengan keluarganya.”  Karena Nuh mendatangkan kesenangan bagi Allah, Anda dan saya dapat hidup sampai saat ini.
Dari kehidupannya kita melihat bahwa ada lima hal yang membuat Allah tersenyum.
  1. Allah tersenyum bila kita mengasihi Dia di atas segalanya.
Nuh mengasihi Allah lebih dari segala yang lain di dunia, bahkan ketika tidak seorang pun mengasihi Allah !  Alkitab memberitahu kita bahwa sepanjang hidupnya, Nuh senantiasa mengikuti kehendak Allah dan hidup dalam hubungan yang erat dengan Dia.[3]
              Inilah yang paling Allah inginkan dari kita yaitu suatu hubungan.  Inilah kebenaran yang paling menakjubkan di alam semesta, bahwa Pencipta kita ingin bersekutu dengan kita.  Allah menciptakan kita untuk mengasihi kita, dan Dia rindu agar kita membalas mengasihi Dia.  Allah berfirman, “ Aku tidak mengingini kurban-kurbanmu; Aku menginginkan kasihmu.  Aku tidak mengingini persembahan-persembahanmu; yang kuingini ialah agar kamu mengenal Aku.”[4] 
                   Allah benar-benar kita dan sebaliknya Ia ingin kita mengasihi Dia.  Dia rindu agar kita mengenal Dia dan menghabiskan waktu bersama-Nya.  Inilah sebabnya belajar untuk mengasihi Allah dan dikasihi oleh-Nya seharusnya menjadi tujuan hidup kita.  Tidak ada hal lain yang bisa menandingi pentingnya hal tersebut.  Yesus menyebutnya hukum yang terutama.  Dia berkata, “ Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.[5]
  1. Allah tersenyum ketika kita mempercayai Dia sepenuhnya.
Alasan kedua Nuh menyenangkan Allah karena dia mempercayai Allah, bahkan ketika hal tersebut tidak masuk akal.  Alkitab berkata, Karena iman, Nuh membangun bahtera di tengah-tengah tanah kering.  Ia diperingatkan tentang sesuatu yang tidak kelihatan, lalu ia bertindak sesuai dengan apa yang disuruhkan kepadanya,. . .  sebagai hasilnya, Nuh menjadi akrab dengan Allah.[6]
Bayangkan situasi ini : suatu hari Allah mendatangi Nuh dan berkata, “Aku kecewa dengan umat manusia.  Di seluruh dunia, tidak seorang pun kecuali kau yang memikirkan-Ku.  Tetapi Nuh, ketika Aku melihatmu, Aku mulai tersenyum.  Aku senang dengan hidupmu, jadi Aku akan meliputi dunia dengan air bah dan memulai kembali dengan keluargamu.  Aku ingin kau membangun sebuah perahu raksasa yang akan menyelamatkanmu beserta binatang-binatang.” 
Ada tiga masalah yang bisa menyebabkan Nuh bimbang.
·         Nuh tidak pernah melihat hujan, karena sebelum air bah, Allah mengairi bumi dari dasar bumi.[7]
·         Nuh hidup ratusan mil dari samudra terdekat.  Meskipun  dia bisa belajar membangun bahtera, bagaimana dia bisa membawanya ke air ?
·         Ada masalah dalam mengumpulkan seluruh binatang dan kemudian memeliharanya.
Tetapi Nuh tidak mengeluh atau membuat alasan.  Dia mempercayai Allah sepenuhnya, dan hal tersebut membuat Allah tersenyum.  Mempercayai Allah sepenuhnya berarti memiliki iman bahwa Dia tahu apa yang terbaik bagi kehidupan kita.  Kita mengharap agar Dia memelihara janji-janji-Nya, membantu kita dengan masalah-masalah, dan melakukan hal yang mustahil bila perlu.  Alkitab berkata, “Tuhan senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya.[8]  
Nuh memerlukan 120 tahun untuk membangun bahtera tersebut.  Saya membayangkan bahwa dia menghadapi banyak hari yang melemahkan.  Tanpa adanya tanda hujan tahun demi tahun, dia dengan kasat dikritik sebagai “seorang yang gila yang berpikir bahwa Allah berbicara kepadanya.”  Saya membayangkan anak-anaknya seringkali malu dengan perahu raksasa yang sedang dibangun di halaman depan.  Namun, Nuh tetap mempercayai Allah. 
Dalam bidang kehidupan kita yang manakah kita perlu mempercayai Allah sepenuhnya ?  percaya adalah tindakan penyembahan.  Sama seperti orangtua disenangkan ketika anak-anak mempercayai kasih dan hikmat mereka, iman kita membuat Allah senang.  Alkitab berkata, “tanpa iman, tidak dapat seorang pun dapat menyenangkan hati Allah.” [9]
  1. Allah tersenyum ketika kita menaati Dia dengan sepenuh hati.
Menyelamatkan populasi binatang dari air bah yang melanda seluruh dunia membutuhkan perhatian besar terhadap logistik dan rincian.  Segala sesuatu harus dikerjakan sama seperti yang Allah tentukan.  Allah tidak berkata, “Bangunlah sebuah perahu tua yang kauinginkan, Nuh.”  Dia memberi petunjuk yang sangat rinci dalam ha ukuran, bentuk, dan bahan bahterah itu serta jumlah yang berbeda dari binatang-binatang yang akan dibawa dalam bahtera.  Alkitab memberi tahu kita tentang tanggapan Nuh: “Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.”[10] 
Perhatikan bahwa Nuh taat sepenuhnya (tidak ada petunjuk yang diabaikan), dan dia menaati dengan tepat (dalam cara dan waktu yang Allah inginkan agar bahterah itu selesai).  Inilah artinya sepenuh hati.  Tidak diragukan lagi Allah tersenyum kepada Nuh.
Andaikata Allah meminta kita untuk membangun sebuah perahu besar, tidaklah kita berpikir bahwa kita mungkin memiliki beberapa pertanyaan, keberatan, atau keengganan?  Nuh tidak.  Dia menaati Allah dengan segenap hati.  Itu berarti mengerjakan apapun yang Allah minta tanpa keengganan atau keraguan.  Kita tidak menunda dan berkata, “Saya akan mendoakannya.”  Kita melakukannya tanpa penundaan.  Setiap orang tua tahu bahwa ketaatan yang ditunda sebetulnya merupakan ketidaktaatan.


[1]  Efesus 5:10, terjemahan The Message (Colorado Springs: Navpres, 1993).

[2]  Kejadian 6:8, Firman Allah yang Hidup. 
  
[3]  Kejadian  6:9b, New Living translation.

[4]  Hosea 6:6, FAYH.

[5]  Matius 22:37-38.

[6]  Ibrani 11:7, Msg.

[7]  Kejadian 2:5-6.
[8]  Mazmur 141:11

[9]  Ibrani 11:6 (BIS)

[10] Kejadian 6:22; lihat juga Ibrani 11:7b.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar